MAYA-KU
Aku suka menulis. Menemukan facebook menjadi semacam
anugerah bagiku. Bayangkan! Aku bisa menulis apapun yang aku mau, tanpa
batasan, pun tanpa larangan. Orang-orang terdekat tak mesti tahu apa yang aku
ungkapkan. Cukuplah aku berteriak bebas dalam status hingga orang sekitar tak
dapat membaca yang sedang kurasakan.
Itu dulu. Ketika aku baru pertama kali bertatap muka dengan wall
dan beranda. Gejolak kekanakan yang terbelenggu dalam fisik remaja seakan
berhasrat untuk dibebaskan. Selepasnya.
Tapi tatkala diri ini mulai menyadari bahwa semua pikir itu adalah
maya, aku kecewa. Aku menghindar dari nyata agar tampak baik saja, tapi telah
memberi ruang bagi dunia untuk tahu bahwa aku sedang terluka. Tak jua mampu
meredam amarah akibat pelarangan, maka kulampiaskan dalam tulisan penuh
kemurkaan. Siapa yang membaca? Mereka! Yang tak kukenal, yang berhak
mengartikan apa yang kurasakan. Tanpa pernah tahu realita lapang.
Hari penuh kelelahan. Hati yang terisi kekecewaan. Air mata yang
tak mampu terbendung. Semua aku ungsikan dari tokoh-tokoh yang menyayangiku
juga memperdulikanku.
Namun memberi kesempatan kepada sosok kau-tak-tahu-siapa untuk menilai
hidupku. Untuk menyepelekan. Untuk bersimpati karena kasihan. Bahkan tak
jarang, yang mampir hanya sekedar like, pun tanpa komentar mendoakan.
Fiuhh, aku bodoh. Kupikir kepuasaan yang kan tereguk, nyatanya yang
kuciptakan adalah kecerobohan. Menyesal? Tentu saja, menyesali betapa
dangkalnya pikiranku tentang facebook
yang sesungguhnya lebih dahsyat dari itu. Bukankah tak hanya diri ini yang
berselancar maya? Tapi se-kabupaten, se-provinsi, se-bangsa dan negara, bahkan
se-DUNIA. Cukup klik translate, maka bahasa aneh pun mampu kupahami.
Ah, sudahlah. Tak usah membahas diriku yang dulu. Yang hobi curhat
pada diary hidup. Yang belum mengerti bahwa apa-apa yang aku
tulis memiliki efek buruk bagi diri. Bahkan
mungkin, orang-orang tersayang mendapat cipratan su'uzhan dari sosok
kau-tak-tahu-siapa. Lebih dari itu, kursor yang terlampau bebas bergerak
tanpa kendali, penggeraknya akan dimintai pertanggungjawaban akhirat nanti.
Maka kucoba tak curhat-curhat lagi. Walau sesekali kecolongan, tapi
itu adalah khilaf yang tak terkendali. Jika diri telah menyadari, menghapus
status yang terlanjur membumi pastilah kulakoni. Walau terlambat, mereka
terlanjur tahu apa yang kuperbuat, setidaknya penyesalan dibuktikan dengan
tindakan. Dan Allaah adalah sebaik-baik penilai dan penerima taubat.
Seiring waktu, tak ada lagi status galau yang ku bagikan. Jikalau
ada yang ingin kuceritakan adalah kebahagian untuk dipetik pelajaran. Teruntuk sosok
kau-tak-tahu-siapa yang tanpa sengaja membaca posting-ku. Melegakan bahwa
diri ini dapat bermanfaat walau sekedar lewat susunan kata tak cermat.
Lagipula, kini aku lebih suka membagi hasil jepretan kamera
ponselku yang tak seberapa ini. You know lah, hasil foto amatiran yang
bermimpi membeli SDLR tapi belum kesampaian. Sukanya aku mengambil potret
keindahan alam. Tapi favoritku adalah momen kebersamaan teman dan keluarga.
Tentu saja, tak lupa kuselipi tangkapan narsis hasil selfie. Bukan
bermaksud pamer, hanya saja aku senang ketika bergaya di depan kamera. Apalagi
mendapat hasil yang baik. Aseli! Tanpa Camera 360 yang mengoreksi.
Tapi, itu dulu. Ketika aku belum tahu bahwa di luar sana banyak
mata-mata nakal. Yang senang memperhatikan gerak lekuk poseku. Cantik, manis,
mata yang lentik, gaya yang centil, kulit yang terawat. Itu adalah sanjungan
biasa yang aku terima lewat pesan. Sesama perempuan? Tentu saja lebih banyak
dari gender yang berbeda. Tak termasuk dari mereka yang sekedar like
atau melirik penuh minat tanpa sibuk membubuhkan komentar.
Alhamdulillaah.. Aku
tidak sempat— dan jangan— merasakan selayaknya seseorang yang aku kenal.
Fotonya tersebar dengan beragam editan tak bertanggung jawab. Mempermalukan
perannya sebagai perempuan. Atau juga seperti seseorang, yang fotonya tersimpan
dalam folder yang dalam. Hanya dibuka untuk dinikmati dan dikhayalkan oleh sang
pemuja tak bertuan. Fiuh, aku bersyukur. Mampu belajar tanpa harus merasakan.
Walau tetap saja, aku juga pernah memancing banyak— tak terhitung— mata tak
halal untuk terbuai angan-angan tentang ragaku.
Maka aku putuskan. Facebook bukan lagi tempat yang aman
untukku memajang gaya casual nan rupawan. Atau memamerkan kemesraaanku
bersama yang tersayang. Kuupayakan tak ada lagi status galau, tak jua
terpampang potret-potret yang berpotensi mengundang ragam cibiran dan khayalan.
Kucoba bergerak lebih waspada, karena sesungguhnya
kehati-hatian adalah bagian dari iman dan taqwa.
Ooh, facebook.. Pesonamu begitu menggoda, tetapi kehormatanku
jauh lebih berharga. Tak ingin kubiarkan kau melucuti privasiku. Tak akan
kubuat celah untukmu membagikan aura indahku. Cukup bagimu, sebagai langkah
dakwahku. Peranmu adalah pengantar pintu surgaku. Bukan untukku mengadu. Tidak
pula sebagai panggung modeling-ku. Biarkan engkau menjadi syafaat
tatkala menghadap Ilah-ku.
Facebook,
bisa jadi engkau sekedar maya yang tak kunjung nyata. Namun ketika Islam
menyapa, biarkan maya-ku sebagai pengantar ridha Allaah 'azzawajalla. Wallahu'alam.
------------------------------------------------
Based on true stroy from D
Written by: Ummu 'Abdullah
Komentar
Posting Komentar