REMINDER #7 PUJIMU ADALAH KOREKSI BAGI AMALKU
Pertama.. Sorry to say yaa.. Aku seharusnya publish tulisan ini selesai tarawih hari kedua. Qadarullaah sakit aku kambuh jadi baru tengah malam aku posting. Semoga dimaklumi. Maafkeun >.< Okey, lanjut!!
Hari ini terjadi obrolan yang absurd banget (menurut aku) tentang hal baru yang mulai aku sukai (lagi) belakangan ini. Menulis. Hingga akhirnya, bincang ringan via whatsapp kami membawa kepada petikan percakapan itu.
NS: "Wah maa syaa Allaah ya.. ahsaan jiddan ni hobynya umm 'abdullaah.. cocok bgt klw msuk kut***.. soalny guru2 di sini suka bgt nulis.."
Aku: "ilmunya belum nyampe.."
NS: "Ahhh.. bisa aja nii umm 'abdullaah.. g nympe gmn.. Wess.. duduk manis dulu lah d smping imam tercinta .. kejauhan klw mapin-depok.. wkwk"
Sebenarnya (tanpa dia tahu), aku tertegun melihat percakapan itu. Ini bukan kali pertama ia memuji tentang aku. Dan memang dia sukanya memuji orang sih, hhe.. Tetapi memang, hal ini membuat aku berpikir cukup lama. Meresapi tentang puja-puji manusia kepada hamba lainnya. Bahwa itu bisa menjadi hal baik dan buruk di satu waktu. Kenapa?
Tidak dipungkiri kalau pujian kita terhadap seseorang, in syaa Allaah, sebagai bentuk apresiasi terhadap apa yang ia kerjakan. Juga bentuk kekaguman. Dan sebagai wujud motivasi kepada kawan agar ia tetap tekun dalam pekerjaan. Itu bagus. Tetapi tidak semua dapat menanggapi pujian dengan bijak tatkala bisikan halus menyisip ke dalam hati. Sebuah campur tangan lain dari makhluk terkutuk bernama Syaithan.
Yup, kalau tidak hati-hati, bisikan-bisikan menyesatkan akan menggelincirkan kita melalui puja-puji manusia. Walau tidak melahirkan tabiat sombong lagi berbangga diri, minimal ia (setan) mampu membelokkan niat manusia dalam beramal. Padahal sesungguhnya, sekecil apapun setiap amalan kita (sebagai manusia), wajibnya diniatkan Lillaahita'ala. Agar tidak hanya hasil di dunia yang bisa dipetik, tetapi juga berbuah pahala surga nanti.
Pantaslah untuk kita selalu mengingat bahwa segala kebaikan kita di mata orang lain, bukan hasil pencapaian diri. Tetapi atas karunia Allaah Yang Maha Penyayang telah menutupi aib ini dari pandangan manusia. Ia berikan tabir pada keburukan diri lalu ditampakkanlah kebaikan ini dalam pandangan hamba yang lain. Hingga yang terucap bukanlah cela, melainkan pujian.
Sepatutnya kita bisa bercermin kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu'anhu tatkala pujian menghampirinya. Khalifah pertama sekaligus sahabat Rasulullaah shallallahu'alayhi wasallam yang dijamin surga ini justru berdoa kepada Allaah subhanawata'ala:
"Allahumma anta a’lamu minni bi nafsiy, wa anaa a’lamu bi nafsii minhum. Allahummaj ‘alniy khoirom mimmaa yazhunnuun, wagh-firliy maa laa ya’lamuun, wa laa tu-akhidzniy bimaa yaquuluun."
Artinya: "Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka." (Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman)
Begitulah sepatutnya seorang muslim menghadapi ujian berupa sanjungan. Ia bagai dua mata pisau yang dapat melukai jika kita tidak bijak dalam menyikapi. Berhati-hati dari rusaknya amal akibat pujian sembari berdoa bagi pengampunan tentunya lebih baik. Bukan justru berbangga lagi bersemangat untuk mendapatkan penghargaan yang semu dari manusia. Karena sesungguhnya, sebaik-baik pemberi balasan bagi amalan manusia adalah Sang Pencipta, Allaah subhanawata'ala. Wallaahu'alam.
"Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Rabb mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal." (QS. Ali-'Imran [3]:136)
#RamadhanInspiratif #Challenge #Aksara #Day2
----------------------------------
Sumbawa, 02 Ramadhan 1438H
Ummu 'Abdullah
Sumbawa, 02 Ramadhan 1438H
Ummu 'Abdullah
Komentar
Posting Komentar