NONFIKSI #1 SEGELAS CAPPUCCINO DI HARI BERHUJAN
Bismillaah...
Aku tidak benar-benar tahu, bagaimana definisi romantis itu sesungguhnya. Kadang aku melihat, seorang teman mendapatkan kejutan sederhana yang cukup menyenangkan mata. Atau teman lainnya yang mendapat sebuket bunga, cokelat, dan secarik ungkapan cinta. Ada juga yang sekedar dibawa berkeliling ke tempat wisata. Ada banyak cara. Namun tujuannya sama, yaitu membahagiakan pasangan kita.
![]() |
| @retnowatindah |
Aku juga tidak benar-benar paham, bagaimana sesungguhnya definisi suami idaman. Satu kali aku mendengar celoteh ringan, seorang karib yang suaminya tak sungkan membantu di rumah dalam pekerjaan. Ada pula kisah sahabat, dimana suaminya banting tulang dengan semangat demi penghidupan keluarga yang layak. Bahkan juga cerita tentang suami siaga, tatkala harus mengawal istri yang sibuknya mengalahkan selebriti nusantara. Berbeda dalam tindakan. Tetapi keinginannya pun sama, memastikan pasangan tetap berada dalam situasi yang menyamankan.
Pun aku masih tak cukup mengerti, bagaimana seorang suami dapat dikategorikan perhatian. Haruskah ia seringkali menghubungi dan menanyakan kegiatan? Atau mungkin ia harus tahu seluk beluk setiap kesukaan pasangan? Atau sekedar menyapa dengan senyuman ketika datang sembari bertanya, "Sedang apa kau, sayang?" Tak sama dalam mengungkapkan. Nyatanya tetap memiliki manfaat yang sama. Yakni menunjukkan kepada pasangan bahwa ia adalah pusat kebahagiaan.
Dan masih banyak lagi kategori tentang yang terkasih. Kepada suami, dari para istri. Bisa jadi label yang disematkan berbeda dalam satu definisi. Tetapi sesungguhnya bermakna satu hati. Yakni, sebuah ingin untuk menampakkan tingginya dedikasi. Bagi para sejoli yang telah terikat janji suci. Begitulah penghargaan bagi para suami. Tersematkan julukan-julukan tak tertandingi. Atas kesantunannya bertindak berani. Hingga ia mampu memuliakan sang istri. Melalui perbuatan sederhana yang tak tampak mumpuni. Tetapi mampu menghangatkan kelelahan hari seorang istri.
Pun begitulah lunaknya hati para istri. Tak emas ia minta sebagai puji. Pula bukan tuntutan materi yang tak tahu diri. Sungguh, pintanya adalah sedikit untuk dimengerti. Bahwa ia adalah wanita yang telah dinikahi. Maka bermanja sudah pasti menjadi naluri. Hingga yang diinginkan, dirinya seoranglah yang dipandang oleh suami. Pun ia telah menjadi ibu dari anak-anakmu. Maka lelah tak jarang bersemayam dalam kalbu. Seringkali keluh menjadi pelengkap setitik peluh. Hingga uluran tanganmu terharap menjadi obat paling ampuh. Bagi wanita yang pernah engkau perjuangkan dahulu. Istrimu.
Maka apa yang membuatmu menahan diri, wahai lelaki? Sementara teladanmu saja mampu memuliakan belasan istri. Mereka termuliakan dengan ciri khasnya sendiri. Terdampingi oleh manusia terbaik hingga akhir nanti. Pun kisah fir'aun yang kejamnya tak tertandingi. Ia tega membunuh para bayi. Tetapi takluk dihadapan seorang istri. Saat menuruti pinta untuk membesarkan bayi sang calon nabi. Tampaklah lelaki perkasa yang tetap mampu menyayangi wanita sekalipun mereka berkuasa.
Begitu sudah. Wanita hanya ingin dipahami inginnya. Oleh lelaki yang telah berani mengkhitbahnya. Karena setangguh apapun wanita, tetaplah bukan makhluk sempurna. Ia tercipta dari tulang rusuk seorang pria. Maka bengkok adalah hakikatnya. Hingga diluruskan memang sudah menjadi fitrah wanita. Tetapi jika engkau kasar padanya, pastilah ia patah seketika. Maka pahamilah.. Ketaatan istri memang berada pada suaminya. Namun hak untuk dibimbing dan dilindungi menjadi isyarat dari adanya janji setia. Hingga Jannah.
Maka memuliakan istri tak lagi menjadi urusan berat. Jika Jannah sebagai tempat tertuju di akhirat. Seperti halnya bingkisan kecil yang hadir di tengah hujan tak lebat. Memperlihatkan segelas cappuccino yang diantarkan oleh akhwat. Bertanda dari seseorang yang sedang berkutat terkait urusan ummat. Tetapi ia masih sanggup mengingat. Tentang hal kecil yang mampu menghadirkan hangat. Bahwa wanitanya, sangat menyukai minuman gelas beraroma kuat. Layaknya segelas cappucinno yang dikirim dari sela hujan yang tak jua lebat. Terasa hangat.
Jangan lagi menghalangi dirimu, wahai suami. Cobalah bersikap berani dalam memuliakan sang bidadari. Singsingkan egomu untuk yang terkasih. Sesosok wanita yang jelas siap menanti. Menjaga diri dan melahirkan pelanjut generasi. Tak perlu khawatir bila kau pergi nanti. Bahkan menjaga harta bendamu adalah tugas para istri. Lantas tak banyak yang ia ingin sebagai fee. Cukuplah beri ia tanda sedikit arti. Bahwa engkau bersedia menjadikan ia Sang Ratu Bidadari. Hingga ke Jannah nanti. aamiin.
“Wanita itu diciptakan dari tulang rusuk; jika kamu meluruskannya, maka kamu mematahkannya. Jadi, berlemah lembutlah terhadapnya, maka kamu akan dapat hidup bersamanya.” [HR. Al-Hakim (IV/174), dan ia menilainya shahih sesuai syarat Muslim, serta disetujui oleh adz-Dzahabi, Ibnu Hibban (no. 1308), dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiihul Jaami’ (III/163.]
-------------------------
Sumbawa, 02 Sya'ban 1438H
Ummu 'Abdullah
Sumbawa, 02 Sya'ban 1438H
Ummu 'Abdullah

Komentar
Posting Komentar