TEGUHLAH!

Akhirnya engkau menyerah. Tak lagi ingin memberi upaya. Bukan bersedia untuk menjadi pecundang! Kau justru mulai mengerti bahwa para jumawa itu tak tergoyahkan.

Orang-orang itu tidak akan bergeming oleh ratapan, bukan? Entah tulus atau kekanakan, nyatanya engkau merasa, bahwa mereka memang coba menyepelekan. Ah, sudahlah! Kini engkau pun menyadari bahwa tak penting rasa pengertian dari orang-orang itu.

Intinya! Engkau belajar bahwa jangan pernah mengiba kepada orang-orang yang tidak mampu menghargaimu. Karena sesungguhnya hati mereka telah terkunci, dan sulit untuk terketuk oleh rasa simpati. Mengharap mereka mengalah, laksana punuk merindukan rembulan. Tak akan kesampaian. Duh, kasihan!

Tapi tak perlu kau balas mereka. Cukuplah orang terkasihmu sebagai pelipur lara. Namun jika memang kezhaliman yang kau rasa, berdoalah! Bukan agar para jumawa itu merasakan hal yang sama. Harapkan sakit dan luka akibat kezhaliman itu akan berbuah surga. Sungguh! Allaah mendengar setiap doa yang teraniaya. Dan sungguh! Rabb-mu adalah sebaik-baik pemberi balasan.

Maka terimalah sedihmu itu sebagai pemberi syafaat. Bersyukurlah dengan menyebut nama Allaah. Apa engkau lupa? Sakit dan sedihnya orang beriman mampu merontokkan dosa-dosa. Tentu saja, kecuali syirik! Lalu biarkan orang-orang itu melenggang dengan nyaman. Melupakan bahwa mereka telah melakukan kezhaliman. Engkau tidak lupa bukan? Bisa jadi kesenangan yang didapatkan adalah azab yang menjauhkan hamba dari Sang Pencipta. Na'udzubillahi min dzalik.

Bersabarlah wahai engkau, Sang Pencari Surga. Sesungguhnya engkau tidak sendiri. Teguhkanlah jiwamu, sebagaimana iman meneguhkan hati untuk berada di jalan yang lurus. Wallahu'alam.



Sumbawa, 28 Jumadil 'Ula 1438 H
Oleh: Ummu 'Abdullah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESEP #1 TAHU ACI KUAH KECAP

RESEP #3 OSENG "ENTUNG-ENTUNG"

REMINDER #7 PUJIMU ADALAH KOREKSI BAGI AMALKU