250 Kata Mengandung Hikmah
Lebih dari satu pekan aku vakum menulis. Menelantarkan deadline yang aku buat sendiri. Semacam berkhianat rasanya, tetapi mau bagaimana? Ada batas yang belum bisa aku tembus. Melayani anak yang sedang kurang fit setelah disunat dan menjamu diri sendiri yang sempat drop karena kelelahan selama mengidam.
Tak tenang sih selama masa menghilang yang panjang. Tetapi kenyataannya aku kembali bangkit. Memainkan jemari kembali di atas keyboard. Sembari merenungi, "Untuk apa aku menulis? Apa yang seharusnya aku tulis?"
Entah kenapa pikiran itu kembali menggelayut manja pada benak. Mengusik idealisme sebagai muslim dan sebagai seorang pencatat. Pula mengingatkan aku kepada amanah yang terlanjur terpikul tatkala suami berkata, "Menulislah kembali selagi itu manfaat untuk dien."
Tak bisa dipungkiri.. Bahwa hal yang memotivasiku untuk kembali mengaktifkan blog adalah izin suami. Padahal sebelumnya ia melarang. Mengingat sejarah kelam dimana dulu yang aku tuliskan adalah cerita fiktif. Sementara dalam islam, tak ada kisah fiktif. Yang ada hanyalah kisah hikmah yang mampu menambah keimanan. Ketika fiktif berlandaskan angan, Islam hadir untuk menepis segala bentuk kebohongan. Maka yang bertentangan sudah sewajarnya tak sejalan dan sepantasnya ditinggalkan.
Tak ada identitas. Kebingungan harus menuliskan manfaat. Sementara aku bukan hamba yang hebat. Enam bulan lebih kuhiasi blog dengan tulisan random yang kupikir masih sejalan dengan amanat. Hingga aku lupa, eksistensi dari seorang hamba kepada Pencipta. Pantas aku bingung, mungkin bukan ridho Allaah yang semata aku cari. Melainkan memenuhi janji yang sedang tak ingin aku ingkari. Padahal jika ibadah yang memang dicari, maka kalam Allaah adalah hal terkaya yang seharusnya kubagi. Maka jika ibadah yang ingin kudapati, kisah hikmah para pendahulu tak akan usang dibahas sebagai penyejuk iman.
Jadi di sinilah aku. Kembali menata niatku. Bukan untuk yang lain, tetapi sebagai pencari ridho Allaah. Sembari berharap, inilah salah satu jalanku menggapai surga yang luasnya melebihi bumi dan langit. Tak perlu mengetik panjang dan lebar. Cukupkan 250 kata, namun mengandung hikmah di dalamnya. Paragraf tak panjang, namun terbaca. Sebagai pengingat kepada kebaikan dan kesabaran, pun menambah keimanan kita sebagai hamba. Di sinilah aku. Semoga Allaah pandaikan dan istiqomah-kan. Aamiin.
"Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran." (QS. Al-'Ashr [103])
#RamadhanInspiratif #Challenge #Aksara #Day7
-----------------------------------
Sumbawa, 13 Ramadhan 1438 H
Ummu 'Abdullah
Sumbawa, 13 Ramadhan 1438 H
Ummu 'Abdullah
Komentar
Posting Komentar