Ramadhan, Bulan Berbagi Pahala

Ini tahun ketiga aku berada di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Ramadhan keempat yang aku jalani di tanah asing bersama suami. Tidak ada yang berbeda dengan Ramadhan di sini dan di ibu kota Indonesia. Masjid-masjid padat ketika awal Ramadhan. Lalu lintas saat sore dipenuhi kendaraan bermotor sambil menunggu adzan maghrib. Muda-mudi nongkrong bareng tanpa batasan. Sama kan? Hanya tempat, waktu, dan orang-orangnya yang berbeda. Budayanya nyaris serupa.


Itu kalau kita menengok ke luar sana. Tetapi di sini, di dalam lingkungan aku tinggal, ada sedikit perbedaan. Salah satu budaya yang begitu kentara dan khas adalah makan bersama kala berbuka. Bukan seperti menyewa tempat lalu berbuka bersama seperti itu. Ini semacam budaya yang dihidupkan dalam kampung yang baru 4 tahun berdiri. Setiap rumah, secara bergilir, diberi kesempatan untuk melakukan ibadah dan meraih pahala besar dengan menjamu orang-orang sekampung berbuka puasa di rumahnya.

"Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga." (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5/192, dari Zaid bin Kholid Al Juhani. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.)

Beranjak dari hadits ini, maka para tetua kampung memfasilitasi warganya untuk meraih pahala besar di bulan Ramadhan. Berbagi pahala, tanpa mengurangi pahala. Maka jadwal harian pun dibuat selama satu bulan penuh. Tim untuk membantu juga disediakan secara bergilir. Dan jangan berpikir akan ada menu mewah, yang ada adalah kesederhanaan dalam meraih keberkahan Ramadhan dan ukhuwwah islamiyyah dalam jama'ah. Sama rata dan sama rasa, in syaa Allaah.

Pun tidak ada yang mengakhirkan apalagi meninggalkan shalat hanya untuk kumpul bersama. Seperti kebanyakan acara buka bersama di luar sana. Di sini, sunnah tidak menghalangi yang wajib. Ketika adzan berkumandang, menu pembuka dihidangkan sebagai pelepas dahaga. Secukupnya. Setelahnya, shaf-shaf dirapatkan dan shalat Maghrib pun ditegakkan berjama'ah. Pun setelah makan besar bersama (ikhwan dan akhwat dipisah), bergegas melaksanakan Isya dan Tarawih bersama. Meramaikan masjid selama satu bulan penuh. Sunnah dan wajib coba diselaraskan di sini.

“Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan waktu berbuka.” (Muttafaqun ‘alaih)

Yaa.. Ini di Kampung Damai. Dengan segala keterbatasan dan ketertatihan, satu per satu sunnah mulai dihidupkan. Ketaatan diselipkan dan diajarkan selama masih dalam koridor Islam. Ada banyak kekurangan, tetapi demi ketakwaan, ridho Allaah harus senantiasa diutamakan, dalam keadaan ringan maupun berat. Semoga Allaah mudahkan. Aamiin.

#RamadhanInspiratif #Challenge #Aksara #Day8


-----------------------------------
Sumbawa, 14 Ramadhan 1438 H
Ummu 'Abdullah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengingat Sang Penghancur Nikmat

RESEP #1 TAHU ACI KUAH KECAP