FITNAH YANG TELAH DIWAHYUKAN

Bukanlah hal baru, bahwa pada era globalisasi seperti saat ini kehidupan dipadati oleh tren yang silih berganti dengan pesatnya. Sayangnya tren-tren yang berkembang lebih banyak diramaikan oleh kaum muslimin di Indonesia. Sekalipun itu menyelisihi syari’at Islam dan menjauhi tuntunan Rasulullah shalallahu’alayhiwasallam. Maka sekali lagi, terbukti benar apa yang telah disabdakan Rasulullah seribu tahun yang lalu:
                                                                                                          
“Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehingga kalau mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalian pun akan ikut masuk ke dalamnya.” [HR. Bukhari dan Muslim]


Salah satu tren yang masih bertahan dan terus mengalami perkembangan dalam beberapa tahun ini adalah selfie. Tren selfie ini dipengaruhi oleh efek smartphone lives yang semakin menjangkiti masyarakat. Dimana, No pict is Hoax dan wabah kekinian menjadi dasar bagi langgengnya tren selfie oleh generasi kini.

Hal itu pula yang membuat saya ‘agak lelah’ dengan isi timeline facebook dan instagram belakangan ini. Banjirnya foto-foto akhawat yang manis dan dibumbui oleh curhatan-curhatan manja seolah menjadi hal wajar. Seakan-akan tampak berlebihan jika perilaku semacam ini ditinjau dari sisi syari’at Islam.

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali .....................” [QS. An-Nuur (24): 31]

Muslimah itu spesial pakai istimewa. Kehormatannya terlalu berharga kalau cuma dibandingkan dengan perhiasaan termahal di dunia. Karena keistimewaannya yang luar biasa, menjaga muslimah juga harus hati-hati, perlu perlakuan khusus. Tidak cocok kalau dipajang sembarangan di etalase-etalase sosial media, dimana setiap mata yang lewat berhak memandang dan membayangkan.
  

Seperti kejadian yang saya alami beberapa hari lalu. Di tengah siang Sumbawa yang terik, tiba-tiba ada satu pesan yang masuk ke aplikasi chat hape. Awalnya biasa saja, paling juga sekedar menyapa dan menanyakan kabar saudarinya di sini. Tetapi ternyata yang dibahas adalah saudari yang di sana. Duhh, mama sayange...

  • Fulanah: “Assalamu’alaykum, mbak. Kenal dengan akun ***i *** gak ya??”
  • Saya: “Wa’alaykumsalam.. Gak sih, cuma tau aja. Warga ******g dia. Kenapa?”
  • Fulanah: “Cantik ya.”
  • Saya: “Iya.”
  • Fulanah: “Tapi sayang, fotonya menantang.”
  • Saya: “Jangan diteruskan ceritanya, mbak. Khawatir ghibah, makan daging saudara sendiri.”
  • Fulanah: “Gregetan aja, mbak. Fotonya menantang laki-laki untuk mendatangi.”
  • Saya: ”Dia udah punya suami kok, mbak. Biar suaminya yang bertanggung jawab terhadap tindakannya. Jangan diomongin kalau gak berani tegur langsung.”
  • Fulanah: “Oh, yaudah kalau gitu.”
Setelah percakapan tak singkat itu, saya jadi berpikir sendiri. Begitu sesama perempuan yang melihat foto saudariku tersebut, bagaimana kalau yang melirik adalah mata lelaki??? Hiii..... Padahal Rasulullah shalallahu’alayhiwasallam telah mengatakan kalau perempuan itu fitnah bagi lelaki, maka tidak perlu dipertegas juga fitnah macam apa seorang perempuan di mata kaum Adam.

Aku tidak meninggalkan satu fitnah pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita.” [HR. Bukhari, No. 5096 dan  Muslim, No. 2740]

Sesungguhnya dunia ini begitu manis nan hijau. Dan Allah mempercayakan kalian untuk mengurusinya, Allah ingin melihat bagaimana perbuatan kalian. Karenanya jauhilah fitnah dunia dan jauhilah fitnah wanita, sebab sesungguhnya fitnah pertama kali di kalangan Bani Israil adalah masalah wanita. [HR. Muslim, No. 2742]

Jadi, masih minat buat selfie dan ­­di-upload ke media sosialkah akhawat shalihah? Padahal Rasulullah telah memperingatkan bahwa kita adalah fitnah bagi kaum pria dan sebagai wanita beriman dituntut untuk menundukkan pandangan lagi menjaga kemaluan. Tidak ibakah kepada suami yang harus ikut memikul dosa lantaran kebiasan istrinya selfie lalu upload? Ataukah para suami memang rela ketika istri yang seharusnya dijaga dari api neraka justru dinikmati oleh setiap mata yang tak halal baginya? Na'udzubillahi mindzalik.

Jangan melulu menyalahkan lelaki hingga harus ditempeli predikat nafsong bin najong karena memang Allah subhanawata’ala yang memberitahukan dalam QS. Ali-Imran (3) ayat 14 bahwa wanita-wanita dijadikan indah pada pandangan pria. Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”
  
Semoga  Allah subhanawata’ala senantiasa memandaikan dan memudahkan kita dalam menjaga kehormatan seorang muslimah. Dan tidak terjerumus dalam tren maya yang menyelisihi syari’at Yang Maha Pencipta. Wallahu’alam bish shawab


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengingat Sang Penghancur Nikmat

RESEP #1 TAHU ACI KUAH KECAP