OUR FIRST

Aku tidak pernah mengingat kapan pertemuan pertama kami, tetapi dia terus saja mengingatkanku tentang kali pertama kami berinteraksi.

“Iya, saya setuju dengan usulan ustadz Auliya bahwa penyelesaian silabus ini harus dikawal dengan serius.

Bahkan ia masih mengingat dengan jelas, setiap detail yang aku katakan kala siang itu.

ooOOOooOOOoooOOoooOOoooOOOooOOOoo


Aku juga tidak begitu yakin bagaimana reaksiku tatkala kami berpapasan di halaman sekolah dulu, tetapi ingatannya masih sangat jelas merekam setiap tindak tandukku saat itu.

“Assalamu’alaykum.” Sapanya seraya tersenyum. “Wa’alaykumsalam.” Jawabku singkat.

Ia pun mengatakan bahwa aku hanya tertunduk– mengalihkan pandangan– seraya menjawab singkat dan berlalu dengan cepat.

ooOOOooOOOoooOOoooOOoooOOOooOOOoo

Dia pun mampu menangkap gelagat gugup ketika aku meminta izin untuk meminjam kantornya di setiap sore. Tetapi ia enggan pula mengakui kalau pada saat itu dirinya terlalu lekat menatap mataku.

“Rasanya lucu aja ngeliat dede’ salah tingkah di depan kakak. Padahal Cuma minta izin pinjam komputer kantor.”

ooOOOooOOOoooOOoooOOoooOOOooOOOoo

Pada akhirnya, di siang itu, aku mulai menyadari ada sesuatu yang lain. Bahwa memang tatapannya telah berbeda kepadaku. Masjid Damai menjadi saksi bisu tatkala ia terpana oleh kehadiranku.

“Afwan, ustadz. Ana titip ponakan sebentar ya. Ana mau ketemu sama Mbak Try dulu.” Pintaku, segan. “Iya, boleh.” Balasnya singkat.

Aku pun bergegas lari dari jarak pandangnya, secepat yang aku mampu untuk menghindari sorot mata yang seolah ingin menahan eksistensiku di sana. Tetapi firasatku tak jua lumpuh untuk menemukan fakta bahwa matanya masih mengintai gerakku.

ooOOOooOOOoooOOoooOOoooOOOooOOOoo

Tak ada yang berbeda, semua masih tetap sama setelah pertemuan terakhir kami kala itu. Hanya perputaran waktu yang terasa sangat tergesa untuk membawa momen itu. Detik dimana ia bersimpuh di hadapanku, sekedar menyematkan cincin emas di jemari manis ini.

“Haruskah dipasangin cincinnya sekarang?” Tanyaku spontan, sesaat setelah prosesi akad selesai.

Maka sejak saat itu, predikat Si Penghancur Suasana tersematkan kepadaku. Seolah bunga-bunga yang terlanjur berguguran anggun di sekitarnya, hilang terbawa canggung.

ooOOOooOOOoooOOoooOOoooOOOooOOOoo

Lucu, rasanya. Ketika aku coba mengingat cara kami membangun komunikasi dulu, pada awal-awal pernikahan. Berpegangan tangan harus izin, jalan berdampingan seolah tak kenal, ataupun tetap terjaga sekalipun malam mulai menepi.

“Seru ya, pacaran setelah nikah.” Dia berucap sembari tertawa. “Malu-malu, tapi mau.” Balasku, semakin memeriahkan tawa kami hari itu.

ooOOOooOOOoooOOoooOOoooOOOooOOOoo

Begitu sudah. Seperti mimpi bahwa harapku akan dikabulkan Allah subhanawata’ala untuk merasakan kencan setelah halal. Sekalipun banyak teman dengan gender yang berlainan, doaku adalah terjaga dari fitnah setan.

“Dan janganlah kalian mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” [QS. Al-Isra’ (17):32]

Pun terhindar dari khalwat(1) yang mampu menjerumuskan kepada perzinahan, walau ikhtilat(2) tak jua mampu kutinggalkan. Duh, penyesalan! Resiko belenggu sekuler(3) atas nama kebebasan, akhirnya fitrah perempuan pun terpinggirkan.

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu(4) dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu(5) dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait(6) dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” [QS. Al-Ahzab (33):33]

Alhamdulillah, semua terlewati dalam bingkai masa lalu. Coba membuka lembar baru bersama suami dan anak-anakku. Kini ada yang menjaga ketika sendiri sehingga langkah setan sedapat mungkin diisolasi. Juga aku memiliki pengingat alami, dimana perbuatan melampui batas sedini mungkin dihindari.

 

Indah bukan? Begini sudah. Adalah kesempurnaan yang akan didapati ketika kita coba menyelami bagaimana cara Allah subhanawata’ala mengatur hubungan para hamba-Nya. Tanpa cela. Apik dalam balutan syari’at Islam yang tak pantas untuk ditinggalkan, sebaliknya wajib ditegakkan dalam setiap sendi kehidupan. Masyaa Allaah.

“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” [QS. Al-Maidah (5):50]

Masih berpikir untuk menikah nanti? Jangan mau merugi padahal ada Allah subhanawata’ala yang menjamin rizki. Atau mungkin kita lupa bahwa dengan menikah seseorang telah menyempurnakan separuh agamanya? Dari Anas bin Malik radhiyallahu‘anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu‘alayhiwasallam bersabda, “Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah atas separuh yang lainnya.” (HR. Al-Baihaqi).

Tak perlu takut terluka jika niatnya adalah ibadah. Karena Allah subhanawata’ala telah menjanjikan kebaikan bagi hamba-Nya yang ingin menghindari maksiat. Lagipula, pernikahan memang tak melulu bicara soal bahagia, seringkali pertengkaran harus menjadi bumbu menuju perbaikan. Wallahu’alam.

Written by: Ummu ‘Abdullah
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Keterangan:
(1) Khalwat: berdua-duaan antara laki-laki dan perempuan bukan mahram.
(2) Ikhtilat: membaur (kumpul-kumpul) antara laki-laki dan perempuan bukan mahram.
(3) Sekuler: sesuatu bersifat duniawi; memisahkan antara perkara dunia dengan agama.
(4) Maksudnya: isteri-isteri Rasul agar tetap di rumah dan ke luar rumah bila ada keperluan yang dibenarkan oleh syara'; perintah ini juga meliputi segenap mukminat.
(5) Yang dimaksud jahiliyah yang dahulu ialah jahiliyah kekafiran yang terdapat sebelum Nabi Muhammad shalallahu’alayhiwasallam dan yang dimaksud jahiliyah sekarang ialah jahiliyah kemaksiatan, yang terjadi sesudah datangnya Islam.
(6) Ahlul bait di sini, yaitu keluarga rumah tangga Rasulullah shalallahu’alayhiwasallam.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengingat Sang Penghancur Nikmat

RESEP #1 TAHU ACI KUAH KECAP