REMINDER #1 BEKAL TERUNTUK YANG KEKAL

"... Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat." [QS. Al-Baqarah(2) : 197]

Dalam fikirku menerawang. Pada masa 9 tahun silam tatkala kaki ini baru menjejak pada suasana perkuliahan. Bertemu teman pun dosen bimbingan.

Ada satu momen yang aku ingat hingga kini, sekalipun sempat terlupakan di hari kemarin. Tapi aku ingat, pada waktu seorang dosen mulai menasehatiku. Tentang masa depanku suatu saat nanti.


"Kalau kamu mau ambil S2 nanti, minimal SKS (satuan kredit semester) yang harus kamu ambil itu sekian sks, dan minimal ipk-nya harus sekian. Dan jangan sampai telat lulus ya. Harus dipikirkan dari sekarang, nanti kalau gak bisa repot kamunya."

Begitu kira-kira isi nasehat beliau. Yang saya rasa penuh perhatian layaknya orang tua. Pun aku mengangguk tanda setuju karena kupikir kala itu S2 dan S3 adalah salah satu inginku. Walaupun pada akhirnya, Abu 'Abdullah terlanjur melamarku.

Terbayang oleh benakku, bagaimana rencana S2-ku mulai dipersiapkan sejak 4-5 tahun sebelum itu. Begitu pula masa remajaku dulu, dimana sekolah-sekolah unggulan telah terpampang pada citaku. Pun cara untuk meraihnya. Semua tentang dia, Kehidupan Dunia.

Namun bukan itu sesungguhnya yang membuat memori ini mundur ke belakang. Bukan tentang kelanjutan studi yang pernah kuharapkan. Atau sekedar mengenang dosen yang dulu memberi perhatian. Bukan!

Ada satu masa yang membuat aku terpekur oleh kenangan itu. Sebuah hari dimana manusia tak mampu lagi menghindar. Yang bisa dilakukan adalah maju ke depan dengan senyuman atau justru tertunduk malu tak tersembunyikan. Hari dimana segala amal dipertanggungjawabkan, Yaumul Akhir.

Kala angan duniaku tergambar dan terencana, dimanakah tempat untuk akhiratku? Hanya pilu yang mampu menjawab sendu. Ditemani oleh kelakar yang tak jua merdu. Teringat hari dimana petuah dien ini serasa hujan yang sekedar berlalu.

Duh, jiwa yang sesungguhnya adalah hamba. Bagaimana bisa engkau kesampingkan Sang Pencipta. Bukankah Allaah yang menggenggam setiap insan bernyawa? Lantas mengapa engkau banyak lupa?
Cobalah diri! Berhentilah sejenak dari kepadatan aksimu menantang hari. Kau tengok sesaat bekal akhiratmu yang tak lagi berisi. Tak sepikah keadaanmu hati?

Pastilah ruh itu iri. Pada dunia yang terus kau titi. Terencana dan terbekal begitu rapi. Sementara ia, mulai tertatih menghadapi hari perhitungan nanti. Maka adilkah dirimu pada diri sendiri?

Ajaklah nurani ini berbincang. Bila engkau mempersiapkan dunia dengan matang, maka akhiratmu lebih berhak mendapat perhatian. Jika tahunan kau korbankan untuk masa tua yang tidak terjaminkan, sungguh akhirat adalah tempat kembali yang kekal. Akhiratmu layak kau pertimbangkan sebagai tujuan. Dan dunia? Biarkan Allaah penuhi jaminan-Nya.

Bergegaslah! Sebelum tiba masa perhentianmu kelak. Jujurlah bahwa engkau takut, bahwa neraka banyak dihuni oleh wanita. Sementara jaminan surga adalah janji Allaah yang nyata. Bagi para pencari ridha-Nya.

Berpantaslah bekal teruntuk dunia abadimu kelak. Wallahu'alam.

Sumbawa, 06 April 2017
Ummu 'Abdullah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESEP #1 TAHU ACI KUAH KECAP

RESEP #3 OSENG "ENTUNG-ENTUNG"

REMINDER #7 PUJIMU ADALAH KOREKSI BAGI AMALKU