REMINDER #4 YAKINLAH BAHWA JODOH TELAH MENANTI

Ketika maksiat ingin dipandang syar'i. Tak jarang label Islam coba disisipi. Coba saja lihat pemuda-pemudi masa kini. Bagaimana gombalan "Aku sayang kamu," telah bertransformasi. Berubah menjadi, "Uhibbuki fillaah, ya ukhti." Duh diri, Allaah kok dipakai merayu yang jodohnya saja belum pasti. Miris sekali.

Ada yang bilang, pacaran islami. Modelnya pacaran, jalan berduaan bareng si doi. Tapi tenang saudari, gandengan tangan tak dilakoni. Dibungkus rapi oleh obrolan syar'i. Berdiskusi tentang sejarah para nabi. Juga saling mengingatkan agar mendekatkan diri kepada Illahi Robbi. Sayangnya yang pacaran islami seperti lupa diri. Bahwa sejatinya, pacaran sebelum halal adalah perbuatan yang Allaah benci. Sayang sekali.

Sebenarnya apa yang kita cari? Ibadah masih sulit didapati. Maksiat pun kerap dijalani. Setidaknya menjaga adalah wujud dari mawas diri. Tetapi mengapa justru sebaliknya yang terjadi? Agar terkesan ringan dosa yang dilakui. Label islam dipakai sebagai tameng diri. Apa yang coba ditutupi? Harga diri duniawi. Ataukah harapan lolos dari tanggung jawab hari akhir nanti? Kasihan sekali.

Mari kita renungkan saudara. Bukankah pacaran islami sesungguhnya tak pernah ada? Kecuali telah terikat akad di antara keduanya. Lantas mengapa hati ini coba kita perdaya. Dengan bahasa islam, pacaran dibiarkan meraja. Berduaan, tak lagi merasa dosa. Ukhuwwah pun menjadi landasan bagi yang ingin menggoda. Segalanya dibalut dengan prasangka. Bahwa selama ada islam di dalamnya, maksiat tak mungkin kentara. Sekedar stigma.

Kenapa tak coba kita tahan. Keinginan untuk bersama pujaan. Jika memang belum cukup mapan dalam menghalalkan. Islam kan tidak memberatkan. Ketika datang sebuah ketertarikan, menikah adalah solusi brilian. Tapi jika belum sanggup keadaan. Berpuasa sangatlah dianjurkan. Lantas mengapa justru memilih kebathilan? Jalan yang jelas ditunjukkan oleh syaithan. Atas nama cinta, pacaran digaungkan. Agar tampak wibawa, Islam pun disematkan. Padahal jika sempat berkaca, cinta apa yang bermuara kepada dosa? Khayalan belaka.

Bersabarlah, duhai insan nan mulia. Jika memang rasa itu datang dari cinta. Ia akan menuntun pada kelapangan pahala. Tak mungkin ia berdusta hingga menyeret sang perasa kepada jurang neraka. Bila memang rasa itu sebuah cinta. Muaranya sudah pasti kepada Sang Pencipta. Karena ia yang menciptakan kemegahan rasa. Maka pasti akan terbalaskan oleh kebaikan semata. Dan tatkala itu benar sebuah cinta. Ia akan menghadirkan malu untuk menyelisihi perintah-Nya. Hakikat cinta.

Yakinlah kepada takdir, ya ukhti. Bahwa jodoh ini telah tertulis dengan pasti. Jika engkau malu untuk mencontoh Khadijah dalam mengawali. Simpanlah ingin itu dengan rapi. Tak perlu kau tebar kepada sesama saudari. Cukup sampaikan doa sebagai bentuk penghambaan diri. Bisa jadi terpanjatkan ingin dari dalam hati. Atau mungkin engkau coba berserah diri. Terhadap pilihan terbaik Sang Illaahi. Pun jikalau perasaanmu berbalas suka, tahanlah diri. Hingga ia yang maju untuk menghalalkan interaksi. Percaya diri. Karena lelaki islami, tak mungkin mengkhianati hukum syar'i.

Satu kubagi kisah haru dariku. Bahwa tak akan kulupa tentang sebuah tanya dulu. Di awal pernikahan yang hanya diatur seminggu. Berapa banyak pria yang memenuhi hariku? Dalam balutan kasih berjudul pacar terdahulu. Maka kubalas, bahwa tak ada sekalipun satu. Suamiku berseloroh ragu. Mungkinkah jawabku adalah lugu, atau bisa jadi sebuah tipu. Begitu pikirnya dulu. Namun kuyakinkan jawabku itu. Bahwa pacar tak punya walau barang satu. Ia tersenyum haru. Merasa berbunga bahwa ia yang pertama bagiku. Maka jangan lupakan itu. Bahwa dengan siapa kita pernah menghabiskan waktu. Menjadi penting bagi pasanganmu.

Maka untuk engkau yang masih sendiri. Juga dirimu yang mungkin bersiap poligami. Yakinlah bahwa jodohmu telah menanti. Lalu, cinta macam apa yang akan kita pertanggungjawabkan kelak? Jika terjadi pelanggaran dalam syari'at. Mungkin kita harus berkaca diri, melalui pesan firman yang dibawa Sang Nabi. Bahwa janganlah mencampuradukkan antara yang haq (benar) dengan yang bathil (buruk). Wallahu'alam.

"Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya." [QS. Al-Baqarah (2):42]

"Sungguh, (Al-Qur'an) itu benar-benar firman pemisah (antara yang haq dengan yang bathil)." [QS. Ath-Thariq (86):13]


-------------------------------
Sumbawa, 18 April 2017
Ummu 'Abdullah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengingat Sang Penghancur Nikmat

RESEP #1 TAHU ACI KUAH KECAP