REMINDER #5 MENJADI 'AISYAH MASA KINI
Terlahir pada zaman dimana Islam mulai tak dikenal. Aku tumbuh menjadi pribadi yang tak begitu patuh. Pada perintah Allaah, pun tuntunan Rasulullaah. Beruntung aku hadir di tengah keluargaku. Setidaknya jalanku tak terlalu berliku. Minimal aku masih mengenal dien-ku. Alhamdulillaah.
Besar di saat demokrasi mulai dirintis. Aku mulai belajar tentang makna sebuah nasionalis. Bahkan sempat terkecoh bahwa jihad adalah aksi teroris. Kupikir begitulah seharusnya arti dari idealis. Membuatku tenggelam dalam aktifitas hedonis. Bersyukur keluargaku segera menyadari jiwaku yang mulai krisis. Bergegas menarikku untuk berpikir kritis. Bahwa Islam adalah jalannya para jihadis. Maka penting untukku tetap terjaga dari lelucon para budak Sang Iblis.
Namun sejauh apapun keluargaku mengawasi. Hadirnya lingkungan adalah variabel yang tak dapat dipungkiri. Maka bathil tak bisa bercampur dengan al-haq semakin terbukti. Salah satunya pasti akan menguasai. Dan itulah yang terjadi kepada diri remaja ini. Tatkala bimbingan keluarga tak sejalan dengan realita hari ini, kontradiksi tak mungkin lagi untuk dihindari. Mendorongku tumbuh menjadi pribadi yang kurang percaya diri. Pada identitas Islam yang seharusnya kuyakini.
Kemudian aku semakin ripuh mengenali seruan Illaahi. Tertatih untuk memahami makna jalan lurus Sang Nabi. Bercampur antara liberalisme yang kian menggerogoti. Melimbungkan keyakinan yang semakin sulit kupegang. Namun aku coba terus bertahan. Tak inginkan derasnya arus kesesatan mengaburkan jalan. Sekalipun berbelit, Islam-lah sebagai akhir perhentian. Walaupun sengit, perjuangan dalam dien ini tak boleh dihentikan. Meski sebentar. Allaahu Akbar!
Seringkali kurasa lelah dalam upaya. Terasa percuma tatkala menyadari langkah ini tertinggal jauh dari mereka. Seakan tak pernah habis kulakukan dosa. Hingga rasanya petunjuk cahaya jauh dipandang asa. Tanda syaithan menang sebagai usaha. Menenggelamkan anak adam dalam menggapai taubatan nasuha. Padahal Allaah telah bicara. Bahwa pintu taubatnya senantiasa terbuka bagi hamba-Nya yang selalu mencoba. Hanya saja, diri ini merasa rendah untuk meminta kepada Yang Maha Kuasa. Sekedar memelas pengampunan yang luasnya sejagat raya. Astaghfirullaah!
Aku masih mencoba. Meniti daya untuk memahami setiap kebesaran-Nya. Menggunakan secuil ilmu yang aku mampu. Untuk belajar tentang dien-ku. Mungkin akan memakan waktu panjang. Bahkan mungkin masaku justru yang kurang. Tetapi ini adalah kewajiban yang seharusnya tidak pernah aku tinggalkan. Terus belajar sebagai seorang insan. Sekalipun tak mampu menandingi generasi terbaik di zaman nabi. Tetapi apa salahnya coba menjadi 'Aisyah Masa Kini? Perempuan berilmu yang tak pernah berhenti belajar. Sosok mulia yang darinyalah para ulama tercipta. Dan aku ingin mengikuti jejaknya. Mencipta ulama dari dalam keluarga. Menjadi ibu cerdas dan beradab mulia. Layaknya 'Aisyah binti Abu Bakr radhiyallaahu'anhaa.
Rasulullaah shallallaahu'alayhi wasallam bersabda, "Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim." (Hadits shahih, riwayat Al-Baihaqi dalam kitab Syu'abul Iman)
Tak mudah untuk menjadi seperti 'Aisyah. Wanita yang terdidik langsung oleh Sang Pembawa Risalah. Tetapi layaknya ummat, sebaik-baik contoh haruslah didapat. Bukan cuma untuk memperpanjang angan. Tetapi coba menjuntai pandang. Bahwa diri ini bisa menjadi istimewa. Tatkala sang teladan adalah ahli surga. Bisa jadi, mendorong hati ini untuk tak berkeluh kesah. Dalam usaha menggapai ridho-Nya. Melalui ibadah yang tak berhenti dilakoni. Melalui dzikir yang terus dikhidmati. Hingga kelak terkumpul di Surga Illaahi.
Maka... Mengapa tak coba untuk meneladani 'Aisyah? Pun sederet nama pemilik kemuliaan yang sama. Inspirasi yang tak terbatas oleh fananya dunia. Tetapi bisa sampai ke istana surga. Juga insyaa Allaah, mampu meningkatkan iman dan taqwa. Karena yang dicontoh adalah para ahli ibadah. Dimana jaminannya tak tersentuh oleh neraka. Kurang apa lagi coba? Menjadi shalihah, pintar, dan cantik di saat yang sama. Masyaa Allaah!
Tak perlu gentar dikata tak rasional. Jangan pesimis bila disebut tak realistis. Memang apa yang salah meneladani para perintis? Apa karena dosa yang menumpuk, malu bersikap idealis? Atau sebab iman yang kikuk hingga butuh terapis? Padahal merekalah pemilik jiwa-jiwa jihadis. Berpikirlah kritis. Teladan itu bukan sekedar seberapa mungkin ditiru. Tetapi sejauh upaya untuk menjadi pribadi baru. Lagipula, Islam tidak begitu. Yang menilai kelak akan menjadi apa diriku. Tetapi bagaimana niatku. Juga ikhtiar macam apa yang pernah dilewati dulu. Dan seberapa dalam iman menyentuh kalbu. Itulah pertanggungjawabanku.
"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah." [QS. Al-Ahzab (33):21].
Bukankah Allaah sebaik-baik penilai? Maka selayaknya, aku meninggikan angan. Untuk menjadi seperti 'Aisyah binti Abu Bakr. Juga seperti wanita-wanita pilihan. Sepanjang zaman. Mengapa aku perlu risau oleh cibiran orang? Yang memandang aku tak pantas menyerupai teladan. Sebab dosa yang telah aku lakukan. Atau karena dangkalnya ilmuku tentang suatu pemahaman. Namanya juga belajar, terseok dan tersandung adalah kewajaran. Terpenting adalah bangkit dan terus berjalan. Sembari mengambil hikmah dari berbagai pengalaman. Untuk menjadi khalifah yang pantas di atas permukaan.
Aku tak ingin berhenti memahami. Bahwa Islam ini wajib dipelajari. Maka menjadi 'Aisyah Masa Kini adalah pilihan yang ingin kutetapi. Sebagai bentuk dari penghambaan diri. Juga persiapan diri untuk mencipta generasi rabbani. Dan semoga menjadi jalan bagi tertimbunnya khilaf yang telah kulakoni. Lalu aku harap bisa mendapatkan hari. Dimana Sang Pencipta akan memberikan ganjaran setimpal. Kemuliaan bagi orang-orang yang tak pernah berhenti berjuang. Untuk hari pembalasan, pun bagi dunia yang tak kekal. Karena Allaah tidaklah mungkin menelantarkan. Bagi setiap amalan pasti akan selalu ada setimpalnya balasan.
Aku masih belajar. Dan akan terus bertahan. Selama hayat masih terkandung dalam badan. Agar kusesaki bekal bila seketika harus menghadap kematian. Kuharap engkaupun begitu. Tak perlu malu. Nyatanya khilaf dan lalai adalah kesatuan setiap insan. Allaah telah menyatakan di dalam firman. Hanya jangan diteruskan ketika hidayah telah datang. Segera tinggalkan yang terlarang lalu sambut pengampunan. Sudah cukupkan, dunia ini tak akan mampu bila dikejar. Lebih baik belajar untuk menjadi manusia pilihan. Yang siap berjuang dalam penegakkan Islam. Jika para lelaki menggunakan pedang, para wanita bisa menggunakan kecerdasan. Dalam mengawal pembentukan generasi awalan. Bagaimana memulai? Coba menjadi 'Aisyah di zaman kekinian. Mari mencoba! Wallaahu'alam.
"Di sana, pertolongan itu hanya dari Allah Yang Mahabenar. Dialah (pemberi) pahala terbaik dan (pemberi) balasan terbaik." [QS. Al-Kahfi (18):44].
-------------------------------------
Sumbawa, 25 Rajab 1438H
Ummu 'Abdullah
Komentar
Posting Komentar